Showing posts with label Sintaksis. Show all posts
Showing posts with label Sintaksis. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

Pengertian Wacana

Wacana berasal dari bahasa Inggris discourse, yang artinya antara lain ”Kemampuan untuk maju menurut urutan-urutan yang teratur dan semestinya.” Pengertian lain, yaitu ”Komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur.” Jadi, wacana dapat diartikan adalah sebuah tulisan yang teratur menurut urut-urutan yang semestinya atau logis. Dalam wacan,a setiap unsurnya harus memiliki kesatuan dan kepaduan.
Setiap wacana memiliki tema sebab tema merupakan hal yang diceritakan atau diuraikan sepanjang isi wacana. Tema menjadi acuan atau ruang lingkup agar isi wacana teratur, terarah dan tidak menyimpang ke mana-mana. Sebelum menulis wacana, seseorang harus terlebih dahulu menentukan tema, setelah itu baru tujuan. Tujuan ini berkaitan dengan bentuk atau model isi wacana. Tema wacana akan diungkapkan dalam corak atau jenis tulisan seperti apa itu bergantung pada tujuan dan keinginan si penulis. Setelah menetapkan tujuan, penulis akan membuat kerangka
karangan yang terdiri atas topik-topik yang merupakan penjabaran dari tema. Topik-topik itu disusun secara sistematis. Hal itu dibuat sebagai pedoman agar karangan dapat terarah dengan memperlihatkan pembagian unsur-unsur karangan yang berkaitan dengan tema. Dengan itu, penulis dapat mengadakan berbagai perubahan susunan menuju ke pola yang sempurna. Membuat kerangka karangan sangat dianjurkan sebelum penulisan, terutama bagi pengarang pemula.

Kerangka karangan bermanfaat sebagai berikut.
1. Pedoman agar penulisan dapat teratur dan terarah.
2. Penggambaran pola susunan dan kaitan antara ide-ide pokok/topik.
3. Membantu pengarang melihat adanya pokok bahasan yang
    menyimpang dari topik dan adanya ide pokok yang sama.
4. Menjadi gambaran secara umum struktur ide karangan sehingga
    membantu pengumpulan bahan-bahan pustaka yang diperlukan.

Agar penyusunan kerangka karangan dapat efektif menjadi acuan pembuatan karangan, langkah yang mesti ditempuh oleh pengarang untuk menyusun kerangka karangan adalah seperti berikut.
(1) Menentukan tema/topik karangan
(2) Menjabarkan tema ke dalam topik-topik/subtema
(3) Mengembangkan topik-topik menjadi subtopik
(4) Menginvestaris sub-sub topik
(5) Menyeleksi topik dan sub-subtopik yang cocok
(6) Menentukan pola pengembangan karangan

Kerangka karangan dapat ditulis dalam dua bentuk, berikut.
1. Kerangka kalimat, ialah kerangka karangan yang disusun dalam bentuk kalimat-
    kalimat lengkap yang menjabarkan ide-ide pokok karangan.
2. Kerangka topik, ialah kerangka karangan yang dituangkan dalam bentuk frasa dan                                         
    klausa sehingga tampak lebih praktis. Penyusunan kerangka karangan dapat                                              
    berbentuk kalimat dan frasa a tau klausa sekaligus, meskipun yang lebih banyak                                                    
    digunakan adalah kerangka topik. Berikut contoh kedua bentuk penyusunan                                     
    kerangka     karangan tersebut.

Contoh kerangka kalimat:
Membuka usaha warnet di tengah perkembangan teknologi informasi.
1. Masuknya ajaran komputer di sekolah-sekolah menambah pengetahuan
    tentang teknologi informasi.
2. Perkembangan sarana komputer menjadi sarana jaringan informasi
     melalui internet.
3. Penggunaan internet menjadi kebutuhan remaja dan anak sekolah.
4. Memanfaatkan minat remaja dan anak sekolah dengan membuka
warnet.

Contoh kerangka topik
Antisipasi lonjakan arus mudik lebaran :
1. Jumlah Pemudik Lebaran
    a. perkiraan lonjakan jumlah pemudik
    b. sarana angkutan yang dipersiapkan
    c. sarana angkutan yang diandalkan
2. Pengaturan jalur Jakarta-Surabaya
    a. jalur utara
    b. jalur selatan
    c. kemacetan lalu lintas dan usaha pencegahannya
3. Petunjuk pemanfaatan jalur
    a. dari DLLAJR
    b. dari instansi terkait

Jenis-Jenis Wacana

Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi
wacana narasi, deskripsi, eksposisi, argumentatif, dan persuasi.

1. Narasi

Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian                                                 
atau peristiwa. Narasi dapat berisi fakta, misalnya biografi (riwayat seseorang), otobiografi/riwayat hidup seseorang yang ditulisnya sendiri, atau kisah pengalaman. Narasi seperti ini disebut dengan narasi ekspositorisNarasi bisa juga berisi cerita khayal/fiksi atau rekaan seperti yang biasanya terdapat pada cerita novel atau cerpen. Narasi ini disebut dengan narasi imajinatif.

Unsur-unsur penting dalam sebuah narasi adalah:
(1) kejadian,
(2) tokoh,
(3) konflik,
(4) alur/plot.
(5) latar yang terdiri atas latar waktu, tempat, dan suasana.

Narasi diuraikan dalam bentuk penceritaan yang ditandai oleh adanya uraian secara kronologis (urutan waktu). Penggunaan kata hubung yang menyatakan waktu atau urutan, seperti lalu, selanjutnya, keesokan harinya, atau setahun kemudian kerap dipergunakan.
Tahapan menulis narasi, yaitu sebagai berikut.
(1) menentukan tema cerita
(2) menentukan tujuan
(3) mendaftarkan topik atau gagasan pokok
(4) menyusun gagasan pokok menjadi kerangka karangan secara
      kronologis atau urutan waktu.
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.  Kerangka karangan yang bersifat     
      naratif dapat dikembangkan dengan pola urutan waktu. Penyajian berdasarkan
      urutan waktu adalah urutan yang didasarkan pada tahapan-tahapan peristiwa atau
      kejadian. Pola urutan waktu ini sering digunakan pada cerpen, novel, roman, kisah  
      perjalanan, cerita sejarah, dan sebagainya.

2. Deskripsi

Kata deskripsi berasal dari bahasa latin discribere yang berarti gambaran, perincianatau pembeberan. Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan dan pengalaman penulisnya. Tujuannya adalah pembaca memperoleh kesan atau citraan sesuai dengan pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulis sehingga seolah-olah pembaca yang melihat, merasakan, dan mengalami sendiri obyek tersebut. Untuk mencapai kesan yang sempurna, penulis deskripsi merinci objek dengan kesan, fakta, dan citraan.

Dilihat dari sifat objeknya, deskripsi dibedakan atas 2 macam, yaitu
sebagai berikut.
a. Deskripsi Imajinatif/Impresionis ialah deskripsi yang menggambarkan
    objek benda sesuai kesan/imajinasi si penulis.
b. Deskripsi faktual/ekspositoris ialah deskripsi yang menggambarkan objek  
    berdasarkan urutan logika atau fakta-fakta yang dilihat. Kita dapat membuat   
    karangan deskripsi secara tidak langsung, yaitu dengan mengamati informasi dalam
    bentuk nonverbal berupa gambar, grafik, diagram, dan lain-lain. Apa saja yang
    tergambarkan dalam bentuk visual tersebut dapat menjadi bahan atau fakta yang
    akurat untuk dipaparkan dalam karangan deskripsi karena unsur dasar karangan ini
    adalah pengamatan terhadap suatu objek yang dapat dilihat atau dirasakan.

Tahapan menulis karangan deskripsi, yaitu:
(1) menentukan objek pengamatan
(2) menentukan tujuan
(3) mengadakan pengamatan dan mengumpulkan bahan
(4) menyusun kerangka karangan
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.

Pengembangan kerangka karangan bercorak deskriptif dapat berupa penyajian parsial atau tempat. Penyajian urutan ini digunakan bagi karangan yang mempunyai pertalian sangat erat dengan ruang atau tempat. Biasanya bentuk karangannya deskriptif. Pola uraiannya berangkat dari satu titik lalu bergerak ke tempat lain, umpamanya dari kiri ke kanan, atas ke bawah, atau depan ke belakang.

3. Eksposisi

Kita eksposisi berasal dari bahasa Latin exponere yang berarti: memamerkan, menjelaskan, atau menguraikan. Karangan eksposisi adalah
karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya. Karangan eksposisi biasanya digunakan pada karya-karya ilmiah seperti artikel ilmiah, makalahmakalah untuk seminar, simposium, atau penataran.
Untuk mendukung akurasi pemaparannya, sering pengarang eksposisi menyertakan bentuk-bentuk nonverbal seperti grafik, diagram, tabel, atau bagan dalam karangannya. Pemaparan dalam eksposisi dapat berbentuk uraian proses, tahapan, cara kerja, dan sebagainya dengan pola pengembangan ilustrasi, definisi, dan klasifikasi.

Karangan eksposisi juga dapat ditulis berdasarkan fakta suatu peristiwa, misalnya, kejadian bencana alam, kecelakaan, atau sejenis liputan berita. Meskipun bentuk karangannya cenderung narasi, namun kita dapat membuatnya menjadi bentuk paparan dengan memusatkan uraian pada tahapan, atau cara kerja, misalnya cara menanggulangi penyebaran virus flu furung, mengantisipasi wabah DBD dengan 3 M, atau evakuasi korban banjir.

Tahapan menulis karangan eksposisi, yaitu sebagai berikut.
(1) menentukan objek pengamatan,
(2) menentukan tujuan dan pola penyajian eksposisi,
(3) mengumpulkan data atau bahan,
(4) menyusun kerangka karangan, dan
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.

Pengembangan kerangka karangan berbentuk eksposisi dapat berpola
penyajian berikut:

1). Urutan topik yang ada
Pola urutan ini berkaitan dengan penyebutan bagian-bagian suatu benda, hal   atau peristiwa tanpa memproritaskan bagian mana yang terpenting. Semua bagian dianggap bernilai sama.
2). Urutan klimaks dan antiklimaks
Pola penyajian dimulai dari hal yang mudah/yang sederhana
menuju ke hal yang makin penting atau puncak peristiwa dan
sebaliknya untuk anti-klimaks.

Seperti halnya karangan deskripsi, karangan eksposisi pun sering dibuat berdasarkan gambar, bagan, tabel, matriks, dan sejenisnya. Penyajian bentuk-bentuk nonverbal tersebut bisa dimaksudkan  sebagai objek  untuk dijelaskan, tetapi juga bisa sebgai alat bantu untk mengkonkret penjelasan.

4. Argumentasi

Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis. Tujuan karangan argumentasi adalah berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran pendapat pengarang. Karangan argumentasi dapat juga berisi tanggapan atau sanggahan terhadap suatu pendapat dengan memaparkan alasan-alasan yang rasional dan logis.

Tahapan menulis karangan argumentasi, sebagai berikut.
(1) menentukan tema atau topik permasalahan,
(2) merumuskan tujuan penulisan,
(3) mengumpulkan data atau bahan berupa: bukti-bukti, fakta, atau
      pernyataan yang mendukung,
(4) menyusun kerangka karangan, dan
(5) mengembangkan kerangka menjadi karangan.

Pengembangan kerangka karangan argumentasi dapat berpola sebabakibat,
akibat-sebab, atau pola pemecahan masalah.
1). Sebab-akibat
     Pola urutan ini bermula dari topik/gagasan yang menjadi sebab
      berlanjut topik/gagasan yang menjadi akibat.
      Contoh:
      a. Sebab-sebab kemacetan di DKI Jakarta
a) Jumlah penggunaan kendaraan
b) Ruas jalan yang makin sempit
c) Pembangunan jalur busway
      b. Akibat-akibat kemacetan
a) Terlambat sampai di kantor
b) Waktu habis di jalan
            2). Akibat-sebab
      Pola urutan ini dimulai dari pernyataan yang merupakan akibat
     dan dilanjutkan dengan hal-hal yang menjadi sebabnya.
     Contoh : Menjaga kelestarian hutan
     1. Keadaan hutan kita
                 2. Fungsi hutan
     3. Akibat-akibat kerusakan hutan
3). Urutan Pemecahan Masalah
     Pola urutan ini bermula dari aspek-aspek yang menggambarkan
                 masalah kemudian mengarah pada pemecahan masalah.
     Contoh :     Bahaya narkoba dan upaya mengatasinya
                        1. Pengertian narkoba
                                    2. Bahaya kecanduan narkoba
a. pengaruh terhadap kesehatan
b. pengaruh terhadap moral
c. ancaman hukumannya
3. Upaya mengatasi kecanduan narkoba
4. Kesimpulan dan saran

Ada bermacam-macam cara metode untuk membuat atau memperkuat arguumentasi antara lain sebagai berikut:
  1. Kausal: pembenaran pendapat dengan mengemukakan alasan  yang berupa sebab-akibat atau akibat-sebab.
  2. keadaan yang memaksa: pembenaran pendapat dengan mengembangkan berbagai jalan buntu sehingga tidak ada jalan alternatif lain
  3. analogi: pembenaran pendapat berdasarkan asumsi bahwa jika dua hal memiliki banyak persamaan maka dalam hal lain tentu ada yang sama pula.
  4. perbandingan: pembenaran perndapat dengan cara membandingkan dua hal , situasi dan kondisi.
  5. pertentangan: pembenaran pendapat dengan mempertentangkan dua situasi /kondisi
  6. kesaksisan: pembenaran pendapat dengan menggunakan / mendasarkan pada keterangan saksi
  7. autoritas: pembenaran pendapat dengan mendasarkan pendapat ahli
  8. generalisasi: pembenaran pendapat/ simpulan berdasarkan data/fakta/ contoh atau kejadian-kejadian yang bersifat khusus.

5. Persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.
Langkah menyusun persuasi:
  1. Menentukan topik/tema
  2. Merumuskan tujuan
  3. Mengumpulkan data dari berbagai sumber
  4. Menyusun kerangka karangan
  5. Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan persuasi
Ada bermacam-macam  cara (metode) untuk membuat atau memperkuat persusasi, antara lain sebagai berikut:
  1. Rasionalisasi: Mencari-cari alasan
  2. Identifikasi: Menyamakan diri dengan pendengar
  3. Sugesti: Kata-kata yang tinggi kekuatannya sehingga dapat mempengaruhi orang lain
  4. Kompensasi: mencari pengganti
  5. Proyeksi: Melempar kesalahan
  6. Menakut-nakuti:
  7. Membeber keunggulan/keuntungan

Pengertian Sintaksis



Pengertian Sintaksis dan Alat-alat Sintaksis

Secara etimologi, sintaksis berasal dari bahasa Yunani, yaitu sun yang berarti dengan dan tattein yang berarti menempatkan. Jadi, sintaksis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Dalam setiap bahasa ada seperangkat kaidah yang sangat menentukan apakah kata-kata yang ditempatkan bersama-sama tersebut akan berterima atau tidak. Perangkat kaidah ini sering disebut sebagai alat-alat sintaksis, yaitu urutan kata, bentuk kata, intonasi, dan konektor yang biasanya berupa konjungsi.
Keunikan setiap bahasa berhubungan dengan alat-alat sintaksis ini. Ada bahasa yang lebih mementingkan urutan kata daripada bentuk kata. Ada pula bahasa yang lebih mementingkan intonasi daripada bentuk kata. Bahasa Latin sangat mementingkan bentuk kata daripada urutan kata. Sebaliknya, bahasa Indonesia lebih mementingkan urutan kata.

Satuan Sintaksis dan Hubungan Antarsatuan Sintaksis 
Sintaksis memiliki unsur-unsur pembentuk yang disebut dengan istilah satuan sintaksis. Satuan tersebut adalah kata, frase, klausa, dan kalimat. Pembahasan kata dalam tataran sintaksis berbeda dengan pembahasan kata pada tataran morfologi. Dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan terkecil yang membentuk frase, klausa, dan kalimat. Oleh karena itu kata sangat berperan penting dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi sintaksis, penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai satuan-satuan sintaksis. Kata dapat dibedakan atas dua klasifikasi yaitu kata penuh dan kata tugas.
Frase biasa didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari dua kata atau lebih dan tidak memiliki unsur predikat. Unsur-unsur yang membentuk frase adalah morfem bebas. Berdasarkan bentuknya, frase dapat dibedakan atas frase eksosentrik, frase endosentrik, dan frase koordinatif.
Klausa adalah satuan sintaksis berbentuk rangkaian kata-kata yang berkonstruksi predikatif. Di dalam klausa ada kata atau frase yang berfungsi sebagai predikat. Selain itu, ada pula kata atau frase yang berfungsi sebagai subjek, objek, dan keterangan.
Kalimat adalah satuan sintaksis yang terdiri dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan dan disertai intonasi final.

Analisis Sintaksis

Struktur kalimat dapat dianalisis dari tiga segi, yaitu segi fungsi, kategori, dan peran semantis. Berdasarkan segi fungsi, struktur kalimat dapat terdiri atas unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Subjek biasanya didefinisikan sebagai sesuatu yang menjadi pokok, dasar, atau hal yang ingin dikemukakan oleh pembicara atau penulis. Predikat adalah pernyataan mengenai subjek atau hal yang berhubungan dengan subjek. Setelah predikat, biasanya diletakkan objek. Keberadaan objek sangat tergantung pada predikatnya. Jika predikatnya berbentuk verba transitif maka akan muncul objek. Namun, jika predikatnya berbentuk verba intransitif maka yang akan muncul kemudian adalah pelengkap. Unsur selanjutnya adalah keterangan, yaitu unsur kalimat yang berisi informasi tambahan. Informasi tersebut biasanya berhubungan dengan tempat, waktu, cara, dan sebagainya.
Kalimat dapat pula dianalisis berdasarkan kategorinya. Dalam tata bahasa tradisional, istilah kategori sering disebut dengan istilah kelas kata. Dalam bahasa Indonesia ada empat kategori sintaksis utama, yaitu: (a) Nomina atau kata benda, (b) Verba atau kata kerja, (c) Ajektiva atau kata sifat, dan (d) Adverbia atau kata keterangan.
Analisis yang ketiga adalah analisis sintaksis dari segi peran. Analisis ini berhubungan dengan semantis. Suatu kata dalam konteks kalimat memiliki peran semantis tertentu. Beberapa pakar linguistik menggunakan istilah yang berbeda untuk pembicaraan peran-peran dalam sintaksis, namun sebenarnya substansinya sama.

Daftar Pustaka
  • Alwi, Hasan dkk. (peny), (2000). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Chaer, Abdul. (1994). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
  • ----------------. (1994). Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Bhratara.
  • Parera, J.D. (1988). Sintaksis. Jakarta: Gramedia.
  • Verharr, J.W.M. (1978). Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
-----------------. (1980). Teori Linguistik dan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Pengertian Frasa dan Klausa



Frasa

1.      Hakekat Frasa
Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonprediktif, artinya tidak terdapat predikat.  Sering juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Contoh frasa:
-          Nasi goreng
-          Anak emas
-          Rumah megah
-          Baru pulang
Satuan bahasa nasi goreng, anak emas, rumah megah, dan baru pulang adalah frasa tidak membentuk hubungan subjek dan predikat.
2.      Jenis Frasa Berdasarkan Kelas Kata
Berdasarkan kelas kata, frasa dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1.      Frasa verbal
Frasa herbal adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata kerja. Frasa verbal terdiri dari tiga macam, yaitu:

a.      Frasa verbal modifikatif (pewatas) yang dibedakan menjadi.
1.   Pewatas belakang, seperti contoh berikut:.
-        Ia sakit keras sekarang
-        Andi berlari cepat saat pulang ke rumah dari sekolah
2.   Pewatas depan, seperti contoh berikut:
-        Kami akan melantunkan lagu Peterpan
-        Kamu pasti menyukai pakaian itu
b.      Frasa verbal koordinatif, yaitu dua verba yang disatukan dengan kata penghubung dan atau atau, seperti contoh berikut:
-        Mereka datang dan pergi kerumah ini
       Kita  pergi atau kembali ke rumah saja
c.      Frasa verbal apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan. Contoh frasa verbal apositif, yaitu:
-        Desa Marga Mulya, tempat tinggal saya, akan menjadi pusat pemerintahan kecamatan Sungai Bahar.



2.      Frasa Adjektival
Frasa adjectival adalah kelompok kata yang menggunakan kata sifat atau keadaan sebagai inti dan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan. Frasa adjectival dibagi atas tiga jenis, yaitu:
a.      Frasa adjektival modifikatif (membatasi), contohnya sebagai berikut:
            -           Cantik nian pacarmu
            -           Indah benar pemandangan itu.
b.      Frasa adjektival koordinatif (menggabungkan), contohnya sebagai berikut:
            -           Mereka merasa tenang dan damai tinggal di komplek perumahan ini.
c.      Frasa adjektival apositif, contohnya sebagai berikut:
            -           Srikandi cantik, ayu rupawan, diperistri oleh Arjuna.
3.      Frasa Nominal
Frasa nominal adalah kelompok kata yang dibenuk dengan menggunakan kata benda. Frasa nominal dibagi menjadi:
a.      Frasa nominal modifikatif (mewatasi), contohnya sebagai berikut:
            -           Pada hari minggu bank tutup
            -           Pada minggu pertama masuk kuliah, dosen banyak yang tidak masuk
b.      Frasa nominal koordinatif (tidak saling menerangkan), contohnya sebagai berikut:
   -           hak dan kewajiban telah diatur dalam UUD 1945
4.      Frasa Adverbial
Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa adverbial dibagi menjadi:
a.      Frasa adverbial yang bersifat modifikatif (mewatasi), contohnya sebagai berikut:
            -           Andi adalah murid yang sangat pintar.
b.      Frasa adverbial yang bersifat koordinatif  (tidak saling menerangkan), contohnya sebagai berikut:
   -           Jarak antara kost saya dengan kampus kurang lebih 1 kilometer.
5.      Frasa Pronominal
Frasa pronominal adalah frasa yang dibentuk dari kata ganti. Frasa Pronominal dibagi menjadi:
a.      Frasa pronominal modifikatif, contohnya sebagai berikut:
            -           Kita semua adalah mahasiswa sastra Indonesia
            -           Kami berdua sedang menunggu angkot
b.      Frasa pronominal koordinatif, contohnya sebagai berikut:
            -           Aku dan kau pergi ke kampus
            -           Aku dan dia duduk berdua
c.      Frasa pronominal apositif, contohnya sebagai berikut:
            -           Kami, mahasiswa Indonesia, memerangi korupsi
            -           Mahasiswa, para dosen, bersalam-salaman
6.      Frasa Numeralia
Frasa numeralia adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa numeralia terdiri dari dua jenis yaitu:
a.      Frasa numeralia modifikatif, contohnya seperti berikut:
            -           Bencana itu menelan dua ratus lima puluh jiwa.
            -           Harga bakso yang anda makan adalah Sembilan ribu rupiah.
b.      Frasa numeralia koordinatif, contohnya seperti di bawah ini.
            -           tiga atau empat pria bertubuh besar merampok sebuah toko emas
            -           Entah tiga, entah empat kali dia menyakitiku
7.      Frasa Introgativa koordinatif
Frasa introgativa koordinatif adalah frasa yang menjadikan kata Tanya sebagai inti. Contohnya seperti berikut:
            -           Pertanyaan apa atau mengapa kini terjawab sudah
            -           entah mengapa atau bagaimana saya bisa menjadi seperti ini

8.      Frasa Demonstrativa koordinatif
Frasa demonstrativa koordinatif adalah frasa yang dibentuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut:
            -           Aku telah mencarimu disana dan disini
            -           Aku memakai sepatu yang ini atau itu, sama saja
9.      Frasa Proposional Koordinatif
Frasa proposional koordinatif adalah frasa yang dibentuk dari kata depan dan tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut:
            -           Perjalanan kami dari dan ke Bandung memerlukan waktu enam jam.
            -           Koperasi dari, oleh dan untuk anggota.

Klausa
  1. Pengertian Klausa
Klausa adalah kelompok kata yang tidak terdapat intonasi final. Intonasi final itu berupa tanda baca. Menurut Keraf (1984:138), klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif.
  1. Jenis-jenis Klausa
Widjono membagi klausa menjadi beberapa jenis, yaitu:
1.      Klausa kalimat majemuk setara
Kalimat majemuk setara dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contoh sebagai berikut;
-          Andi membaca komik, dan ibunya mencuci piring
Klausa pertama andi membaca komik, klausa kedua ibunya mencuci piring, dapat dilihat disini bahwa keduanya tidak saling menerangkan.
2.      Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini:
-          Ayah pulang dari kantor setelah aku mandi dan adik bangun dari tidurnya
Kalimat diatas terdiri dari tiga klausa,
Ayah pulang dari kantor (klausa pertama)
Setelah aku mandi (klausa kedua)
Adik bangun dari tidurnya (klausa ketiga)
1.      Ayah pulang dari kantor setelah aku mandi (kalimat majemuk bertingkat)
2.      Aku mandi dan adik bangun dari tidurnya (Kalimat majemuk setara)

selengkapnya KLIK DISINI