Showing posts with label Menulis Kreatif. Show all posts
Showing posts with label Menulis Kreatif. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

Cerpen: Antara Kerja Keras Dan Kelembutan Hati Si Nenek Pemulung



Tatit Hari Pamungkas
NIM/BP 17356/2010
Tempat pengepulan barang rongsokan itu hanyalah usaha kecil yang dijalankan oleh pak Hamid, ia adalah bapaknya Ardi, kawan saya. Tempatnya kumuh, penuh dengan botol-botol bekas, penuh barang-barang rongsokan lainnya, malah kumpulan barang rongsokan itu bisa dikatakan tumpukan sampah. Pagarnya hanya terbuat dari atap seng. Pintunya terbuat dari kayu dan juga dilapisi dengan seng dibagian depannya.
Tempat pengepulan barang rongsokan itu sering didatangi oleh para pemulung yang ingin menjual barang rongsokan yang telah didapatkannya. Sangat miris melihat para pemulung itu, pakaiannya kumuh, begitu juga badannya. Pemulung-pemulung itu terdiri dari anak-anak hingga orang tua yang seharusnnya tidak sanggup lagi bekerja.
Namun, dibalik kekumuhan tempat pengumpulan barang rongsokan itu, terdapat supermarket yang begitu mewah didekatnya, jaraknya sekitar 20 meter. Didepan supermarket tersebut dijadikan tempat untuk mengais rezeki bagi pengemis dan gelandangan. Kerjanya hanya meminta-minta uang. Ada yang meminta-minta di tangga masuk supermarket, dan di jalan depan supermarket.
Yang lebih memiriskan hati, pengemis-pengemis itu bukan saja memiliki tubuh yang kumuh namun juga memiliki kelainan fisik. Ada yang buta, ada yang punya kaki hanya satu, ada yang tangannya bunting, dan macam-macam. Keadaan mereka sungguh menyedihkan, terlebih bagi pengemis yang berusia lanjut dan anak-anak. Ntah kemana peran pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya.
***
Suatu pagi, seperti biasanya, aku ada perkuliahan pagi ini. Kebetulan untuk menuju ke kampus ku, aku harus melewati tempat pengepulan barang rongsokan dan supermarket itu. Tapi yang lebih utama aku selalu mengunjungi tempat pengepulan barang bekas itu dahulu untuk mengajak pergi ke kampus bareng Ardi--dia adalah kawan sejurusan dengan ku, juga kawan sekelas—seperti biasa kami selalu berangkat bareng kalau ada mata kuliah yang sama jadwalnya.
Waktu sampai di depan pengepulan, padahal masih jam 6.30 namun sudah ada seorang nenek yang sudah mengantarkan barang rongsokannya untuk dijual. Aku terheran kenapa pagi-pagi sudah menjual barang rongsokan. Aku Tanya kepada nenek tersebut, dia menjawab “ini barang cadangan nenek, yang dijual kalau nenek sedang tidak sehat dan sedang tidak sanggup memulung, nak” sambil terbatuk beberapa kali.
Aku termenung sejenak, hingga akhirnya memutuskan untuk memanggil Ardi saja. Tapi sebelum aku mengetuk pintu rumahnya--terletak di belakang tempat usahanya--dia sudah muncul. Kebetulan, aku tidak perlu teriak untuk memanggilnya. Dia sudah mandi, dan ternyata si nenek juga baru ketemu dengan Ardi. Nenek menunggu karna Ardi tadi sedang mandi.
Tanpa banyak buang waktu, kami bergegas berangkat ke kampus. Untuk melayani si nenek, ardi memanggil bapaknya untuk segera melayani si nenek yang sudah lama menunggu tadi.
***
Aku penasaran dengan nenek yang tadi. Ku bongkar rasa penasaran ini dengan bertanya kepada Ardi, “di, siapa sih nenek yang tadi tuh?” kemudian Ardi menjawab “ia, seorang nenek yang sangat miskin, ia hanya tinggal dengan anak laki-lakinya yang cacad mental. Penghasilannya hanya dari memulung”. Aku bertanya lagi “memang Cuma satu ya anaknya? Kalau ada yang lainnya, lantas pada dimana?”. Ardi menjawab dengan bahu terangkat “aku nggak tau, kata orang sih dia punya banyak anak, tapi nth iya atau nggak. Tapi aku yakin anaknya Cuma satu, yang cacad mental itu”. Aku tidak bertannya lagi. Padahal sejumlah pertanyaan terlintas dipikiran ku namun seolah-olah Ardi tak kan mampu menjawabnya.
Tak lama kemudian, kami sampai dikampus dan masuk ke kelas. Tapi dosen belum datang, akhirnya aku dan Ardi beserta kawan-kawan lainnya menunggu dosen tiba sambil menghisap rokok dan duduk duduk menyandar di dinding luar kelas.
***
Kuliah hari ini sudah selesai. Aku dan Ardi kembali pulang bebarengan. Kami kembali melewati supermarket yang megah itu. Ternyata kami melihat nenek tadi. Ia sedang berbicara dengan seorang pengemis. Nampak si nenek mengeluarkan beberapa uang dan memberikan  kepada pengemis itu. Aku terkejut dan heran kenapa si nenek mau memberikan uangnya padahal si nenek dalam keadaan kurang sehat dan sedang butuh uang juga.
Mungkin Ardi tau apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran ku. Ardi langsung bicara kepada ku “jangan heran, nenek itu memang miskin tapi ia punya hati yang baik. Ia rela berbagi dengan orang lain”. Aku menjawab “oo….sungguh mulia hati nenek itu. Padahal dia kata nenek tadi dia menjual barang rongsokan yang dia cadangkan untuk saat yang mendesak, dan keadaan nenek sekarang ini sebenarnya sedang terdesak, dia sedang tidak bisa bekerja karna kesehatannya sedang terganggu…” . Ardi memotong percakapan “ya, begitulah dia. Hatinya mulia”.
***
Kini aku mulai sering mendengar cerita tentang nenek pemulung itu dari banyak orang. Ceritanya tak lebih sebagai seorang nenek miskin nan baik hati. Aku mulai tertarik dengan kisah hidupnya. Aku berencana menuliskan kisahnya menjadi sebuah novel. Namun karna tugas kuliah lapangan di daerah lain, aku tunda rencanaku hingga minggu depan, karna untuk menyelesaikan tugas lapangan ku membutuhkan waktu satu minggu.
***
Hari ini hari minggu, sudah waktunya mengakhiri tugas lapangan ku dan bergegas kembali pulang. Sesampainya di rumah, aku mulai memikirkan kerangka novel ku, cerita tentang apa saja yang harus aku  dapatkan dari nenek. Begitu siap, aku mulai berangkat menuju tempat pengepulan barang rongsokan pak Hamid. Barangkali nenek ada disana.
Sesampainya di tempat usaha pak Hamid, ternyata si nenek sedang tidak ada disana, kenudian aku bertanya kepada pak Hamid tentang keberadaan si nenek yang cirri-cirinya ku ceritakan kepada pak Hamid. Beruntung pak Hamid mengenalnya. “nenek itu sudah meninggal 3 hari yang lalu” kata pak Hamid. Aku sangat terkejut mendengarnya, aku menjawab dengan nada terkejut “inanilahi….kenapa dia meninggal pak? Pak hamid menjawab “ia meninggal karena tertabrak mobil ketika menolong menyeberangakan jalan  pengemis yang buta. Supir mobil itu dalam keadaan ngantuk sehinggan mobil yang dibawanya oleng dan menumbur si nenek, beruntung pengemis yang buta itu selamat karna didorong oleh nenek”. Miris rasanya mendengar cerita peristiwa itu, “lantas bagaimana dengan anaknya yang cacad itu pak? Kemudian pak hamid menjawab “anak yang cacad itu dibawa oleh kakaknya” aku memotong pembicaraan “tapi ia tidak punya anak lain pak? Pak Hamid menjawab “itulah kebesaran allah, asal kamu tau, ternyata yang menabrak nenek itu adalah kawan dari anaknya si nenek, pengendara mobil itu kenal si nenek, kemudian menelepon seorang pria. Ketika pria itu tiba dilokasi kejadian dengan menggunakan mobil yang mewah dan dandanan ala orang kaya, pria itu langsung memeluk si nenek dan menggotongnya masuk kedalam mobil. Begitu ditanya oleh pihak polisi yang ada ditempat kejadian. Ternyata pria itu adalah anak ke-empatnya. Ia seorang dokter. Pria itu menjelaskan sebenernya nenek ini adalah ibu kami. Kami lima bersaudara, anak yang pertama adalah seorang kepala Rumah Sakit, yang kedua adalah seorang pengusaha ekspor-impor, yang ketiga adalah seorang manager perusahaan tambang asing, di Papua, dan yang ke-lima adalah seorang yang cacad mental yang tinggal bersama nenek selama 5 tahun terakhir ini. Nenek adalah seorang pekerja keras, ia tidak mau hidup dengan hanya menerima uang dari anak-anaknya. Sehingga ia memilih untuk hidup berdua dengan adik saya yang bungsu. Dan si nenek itni atau emak saya ini meminta kepada kami untuk merahasiakan yang sesungguhnya.” Begitu informasi yang didapat oleh pak Hamid. 
Aku terduduk setelah mendengar cerita pak Hamid tadi. Kini aku sadar, ternyata seorang yang dalam keadaan miskin hingga tua tidak selalu orang-orang yang tidak pekerja keras. Aku belajar dari seorang nenek yang tua, lemah, dan keriput. Aku belajar tentang kebaikan hatinya, kerendahan hatinya, dan semangat kerja yang kuat.

Feature: Perjalanan Eksotis Ke Parang Teritis



Tatit Hari Pamungkas
NIM/BP 17356/2010
Hawa panas menyambut kedatangan kami di Jogjakarta, setelah melalui perjalanan kurang lebih dua setengah hari. Perjalanan ku beserta keluarga dalam rangka berlebaran dengan keluarga yang ada di Jogjakarta. Kebetulan kuliah sedang libur, jadi aku bisa ikut ke Jogjakarta. Lumayan, sambil refreshing.
Pertama kali tiba di Jogja, aku tidak bisa tidur padahal badan sedang letih karna perjalanan Jambi-Jogja yang sangat jauh, ditambah hawa siang itu yang memang cukup panas. Rasanya aku ingin keluar mencari udara segar, juga ingin keliling melihat-lihat pemandangan kota pelajar ini. Tapi tidak tahu harus kemana. Untunglah ada om ku, om Anjar, yang mau mengajakku keliling kota. Aku diajak ke salah satu objek wisata, yaitu pantai Parang Teritis.
Parang teritis adalah nama pantai di Jogjakarta. Pantai ini terletak 27 KM selatan kota Jogjakarta. Pantai Parang Teritis mempunyai keunikan yang berbeda dengan pantai lainnya, selain ombaknya yang besar, juga terdapat gunung-gunung pasir yang tinggi disekitar pantai. Waktu yang tepat untuk mengunjungi pantai ini yaitu pada sore hari ketika matahari hendak terbenam. Agar tidak tersengat panasnya matahari.
Berbicara tentang pantai Parang Teritis atau pantai selatan, tidak terlepas dari cerita tentang Ratu Kidul. Menurut om Anjar, pantai parang teritis sangat lekat dengan cerita ratu Kidul. Banyak orang Jawa percaya bahwa parang teritis adalah gerbang menuju ke kerajaan gaib milik Ratu Kidul. Merinding rasanya mendengar cerita tentang makhluk penguasa pantai selatan ini. Dibalik pesona eksotik pantai, ternyata ada makhluk gaib yang menguasai pantai ini.
Angin menderu kencang namun sejuk. Air laut menggulung terpecah di bibir pantai. Tampak turis sedang berjemur diri sambil memegang sebotol minuman ringan. Pantai parang teritis tidak hanya dikunjungi oleh wisatawan domestik saja. Menurut data retribusi dan kunjungan obyek wisata di Kabupaten Bantul. Pada tahun 2011, jumlah pengunjung asing mencapai 1.338.112 orang. Ini menandakan bahwa pantai Parang Teritis adalah pantai dengan jumlah wisatawan asing terbanyak dibandingkan dengan pantai lainnya di Jogjakarta seperti pantai Kwaru, pantai Pandansimo, pantai Samas, dan pantai Goa Cemara.
Matahari sudah condong kebarat, inilah saatnya untuk bersenang-senang pikirku. Aku melihat ada penyewaan ATV (All-terrain Vechile). Kuajak om Anjar mendatangi tempat penyewaan itu. Aku terkejut dengan tarif sewanya, Rp. 50.000 per setengah jam. Tapi tetap aku sewa juga, satu ATV untuk aku dan om Anjar. Mungkin karna aku sudah terhipnotis dengan keindahaan pantai ini.
Ku telusuri pinggir pantai ini dengan ATV. Melesat melintasi pasir pantai yang mulus sesekali disapu ombak. Sungguh aku merasakan kedamaian. Seperti tak ada beban dalam hidup.
Tak henti-hentinya aku berdecak kagum atas keindahan panoramanya. Pesona eksotisnya berupa deburan ombak dan pemandangan disekitar pantai. Angin memberikan kesejukan dan rasa damai. Tak ada orang yang berwajah muram disini, semua tertawa lebar, merasakan kebahagiaan berada ditempat seindah ini. Capek karna perjalan di bus kemaren pun terbayar lunas dengan pantai yang luar biasa ini.
Tak terasa sudah setengah jam kami berlalu-lalang menaiki ATV. Perjalanpun kami lanjutkan untuk mengisi tenggorokan yang sudah kekurangan air. Kami mendatangi pedagang kelapa muda dan membeli dua buah kelapa muda. Kemudian kami bawa kesebuah batu, cukup untuk duduk berdua sambil beristirahat menunggu matahari terbenam.
Hanya sekitar 3 jam kami berada di pantai Parang Teritis, bapak dan ibu sudah menelepon aku untuk pulang, walau rasanya masih belum ingin pulang tapi mau bagaimana lagi, aku sudah ditunggu oleh bapak, ibu, dan keluarga lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tampak wajah om Ganjar yang makin hitam karna sengatan matahari tadi. Kami berbagi canda, sambil berjalan dan menutup cerita ini. Tak bisa aku lupakan nama mu Parang Teritis meski kutulis nama mu di pasir dan tersapu ombak. Kau tak akan hilang dari benakku. Kau akan selalu ku kenang sebagai pantai yang eksotis.

Jack si Pemalas



Jack si Pemalas
Tatit Hari Pamungkas
NIM 17356
Jack, si pemalas itu, memang orang yang lucu. Tiap hari membuat perut saya terkocok. Ada-ada saja tingkahnya. Semua orang menyukainya, ia membuat orang yang sedang bersedih menjadi riang kembali. Jack adalah seorang mahasiswa Universitas Baiturrahma. Asalnya dari Jambi, tak ada sedikitpun darah minangnya. Ayahnya orang kerinci dan Ibunya orang Sunda.
Dia malas memikirkan yang rumit-rumit. Semua masalah dianggapnya sepele, tak ambil pusing dalam mengatasi masalah. Saat menghadapi tugas kuliah, ia sibukkan diri dengan beragam tingkah. Misalnya, bersiap menyelesaikan tugas laporan, duduk manis didepan meja belajar, buka laptop, eh dia fesbukan sibuk chatting sana sini. Sungguh kreatif.
Dia juga sering memerintah. Mengusahakan orang lain yang melakukan tugasnya. Berharap duduk manis dan terima hasil. Pemalas seperti seorang pemimpin. Jago memerintah sedangkan ia cuma duduk manis menunggu hasil. Sungguh kharismatik.
Jarang terlihat serius, itulah yang nampak di wajahnya. Segala sesuatu dijadikan bahan guyonan. Sampai-sampai, kawan sendiri juga dijadikan bahan tertawaan. Tapi begitulah Jack si pemalas. Selalu tak bisa marah dihadapannya. Ada saja alasannya. Oh ya!, pemalas memang pandai mengecoh.
Mengapa orang ini saya sebut malas? Karena, dia tidak mau menemukan dan melakukan dengan sungguh-sungguh apa yang bisa membuat hidupnya bahagia. Dia malas mencari tahu apa kelebihan dirinya. Dia malas melakukan sesuatu yang bisa membuat hidupnya nikmat. Dia lebih senang hidupnya dikendalikan oleh lingkungannya. Mereka itulah sesungguhnya pemalas sejati.
Lantas untuk mencari solusi untuk mengatasi rasa malas, saya mencari di internet, yang saya temui malah artikel-artikel yang lucu, salah satunya Ciptakan skenario agar distraksi sulit dicapai. Misalnya, taruh remote TV di atap rumah tetangga. Ingin nonton TV di saat harusnya mengerjakan laporan? Sok atuh! Panjat saja atap tetangga. Malas kan? Nah, selesaikan laporan saja kalau begitu. Yang saya pikir malah, bukankah orang pemalas itu adalah orang yang menulis artikel asal-asalan?
Kemudian saya mencari apa sebenarnya rasa malas itu di internet lagi. Yang saya temui seperti ini, apa itu malas? kapankah rasa malas timbul? Apakah pada saat belajar? Atau pada saat ada tugas kuliah? Sepertinya anda sedang ada tugas kuliah. Saya cuma bisa menarik nafas dalam-dalam.
Kalau dipikir-pikir, malas itu memang tak ada solusinya, tak tau dari mana asalnya, kapan timbulnya. Malas itu tergantung dari keadaan fisik, sedang fit atau tidak. Dan juga tergantung dari kapasitas kemampuan yang kita miliki. Ada seorang sastrawan, kok disuruh membuat rancangan jembatan. Bisakah? Dari situlah maka malas itu keluar.

Friday, October 1, 2010

Definisi sastra indonesia

Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.